in

Jatuh Bangun Bisnis Hidroponik, Hambali Pernah Rugi Ratusan Juta


Tabanan

Dunia cocok tanam agaknya sudah menjadi bagian hidup Hambali (42), pria asal Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Meski sepuluh tahun lalu usaha cocok tanam dengan cara hidroponik yang dilakoninya di tempat kelahirannya sempat terpuruk hingga membuatnya rugi ratusan juta rupiah.

Kini, Hambali kembali menekuni dunia cocok tanam dengan semangat belajar yang tidak pernah luntur. Ia mencoba membangun sistem bercocok tanam yang terintegrasi antara pertanian, peternakan, dan metode irigasi pada pola tanam hidroponik.

Semuanya ia lakukan di kebun yang ada di belakang The Gardenous, rumah makan yang dikelola istrinya, Jalan Majapahit Nomor 5, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Kebun yang dibangun Hambali memang tidak begitu luas.



Hanya menempati lahan seluas dua are. Di lahan seluas itu, sejak 2020 lalu, ia sudah 12 kali panen semangka dan melon. Semuanya ditanam ke dalam pot secara vertikal untuk menghemat ruang dan seluruh tanaman memperoleh distribusi cahaya yang maksimal.

Sedangkan kebutuhan air bagi tanaman dipenuhi dengan metode drip irrigation (tetesan) yang biasa diterapkan pada cara bertanam hidroponik. Dengan sistem ini, kebutuhan air untuk tanaman pada tiap pot diatur secara komputasi.

Sementara untuk kebutuhan pupuk ia penuhi dengan memanfaatkan kotoran Hamster yang diternakkannya serta kompos yang dibikin sendiri. Untuk mengendalikan hama, ia sesekali melakukan sterilisasi media tanam konvensional yang memanfaatkan tanah humus dengan cara dikukus.

“Kebun ini skala prototipe. Kalau arah pengembangan yang lebih serius sudah ada. Rencananya di Pengambengan, Kabupaten Jembrana. Di lahan seluas 4,5 are,” sebut Hambali, Minggu (18/9/2022).

Hambali mengaku awalnya sempat memiliki keinginan meninggalkan dunia cocok tanam, meski ia sempat meraup untung dari dunia itu. Bermodalkan semangat belajar secara mandiri, pada 2005 hingga 2010, ia sempat berkecimpung dalam usaha perkebunan dengan metode hidroponik.

Dengan metode seperti itu, produk pertanian yang ia bangun di Desa/Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, itu sempat masuk ke segmen pasar modern di Surabaya, Malang, dan Sidoarjo. Tanamannya terkonsentrasi pada Tomat Beef, Tomat Chery, dan Timun Acar.

Semuanya dihasilkan dari empat green house dengan luas sekitar dua setengah are di tempat tersebut. Satu unit green house dengan luas dua setengah are mampu memuat sekitar 800 tanaman. “Satu tomat saja satu bulan bisa satu kilogram,” sebutnya.

Sayangnya, usaha itu tidak bertahan lama lantaran musibah yang dialaminya. Dua unit green house miliknya roboh diterpa angin kencang. Belum lagi, situasi pasar yang kala itu oversupply sehingga harga produk pertaniannya anjlok. Hambali akhirnya merugi hingga ratusan juta.

“Saya sudah coba bertahan saat itu. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan tidak ada yang bisa saya harapkan dari sini (hidroponik),” sambungnya.

Pada 2010 lalu, ia merantau bersama istri dan anak sulungnya ke Bali. Ia sempat berjualan ikan di Pasar Canggu. Namun itu tidak bertahan lama. Hanya satu bulan.

Hambali yang lulusan jurusan Bahasa di SMAN 1 Mojoagung, Jombang, Jawa Timur ini, akhirnya banting setir menjadi produsen arang batok kelapa. Itu pun berawal dari keisengannya menanyakan satu kilogram arang kepada seorang pedagang di Pasar Canggu.

“Dalam tiga hari, saya coba buat dan tawarkan kepada pedagang yang saya temui di Pasar Canggu tersebut. Ternyata arang saya buat itu layak jual. Harganya satu kilogram sekitar Rp 4.000,” ungkapnya.

Dari situ, optimisme Hambali bangkit lagi. Hingga usahanya itu sempat memproduksi 200 kilogram arang dalam sehari dan mempekerjakan empat anak buah.

Usaha itu berlanjut saat ia pindah ke Tabanan. Namun usaha itu tidak berlanjut lantaran ia harus membantu istrinya mengembangkan usaha rumah makan. Saat itu, usaha rumah makan istrinya berkembang pesat. Hingga sempat memiliki enam cabang dan mempekerjakan 15 karyawan.

Tapi pada 2020 lalu, usaha rumah makan itu terpuruk karena pandemi. Dari enam cabang rumah makan, yang tersisa hanya dua cabang. Sementara dari 15 karyawan yang sempat dipekerjakan, kini hanya tersisa delapan orang.

Di salah satu cabang itulah, Hambali memanfaatkan waktu luangnya untuk kembali berkebun sejak 2020 lalu. Awalnya ia hanya menanam bunga-bungaan, semangka, dan melon. Tiga komoditas itu dalam setiap panen bisa menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp 3 juta selama dua bulan sekali atau enam kali dalam setahun.

“Karena ini skala prototipe, bila dibandingkan dengan usaha rumah makan, hasilnya tentu relatif kecil. Tapi bila dikembangkan, kebun dengan sistem terintegrasi ini cukup prospektif karena investasinya relatif kecil, dibandingkan dengan sistem hidroponik yang satu unit green house dengan ukuran dua setengah are investasinya bisa mencapai Rp 50 juta,” jelasnya.

Simak Video “Moorissa Tjokro: Berpikir Kritis Jadi Keterampilan yang Wajib Diasah
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)



Sumber Artikel

Baca juga:   Perjuangan Mahasiswi UNY, dari Penjaga Toko Kini Lulus Cumlaude-Lanjut S2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings